Kisah Nabi Saleh – Apakah kalian mengetahui sesungguhnya ada berapa jumlah Nabi dan Rasul? Nabi dan Rasul jumlahnya sangat banyak sekali. Total terdapat 124 ribu Nabi dan 312 Rasul. Namun dalam Islam kita hanya diwajibkan untuk mengetahui dan mempelajari 25 Nabi dan Rasul. Lalu apakah perbedaan antara Nabi dan Rasul?

Secara bahasa, Nabi diartikan sebagai hamba Allah SWT yang menerima wahyu melalui malaikat Jibril untuk dirinya sendiri. Nabi merupakan manusia biasa seperti kita, hanya saja Nabi diberikan kelebihan dan amanah untuk mengingatkan orang di sekitarnya dan keturunannya agar memiliki perilaku baik dan menyembah Allah.

Nabi berasal dari istilah kata ‘Naba’ yang memiliki pengertian “dari tempat yang tinggi”. Sedangkan Rasul adalah hamba Allah SWT yang menerima wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril untuk dirinya sendiri dan umatnya. Semua Rasul adalah merupakan Nabi. Tetapi tidak semua Nabi adalah Rasul.

Nah, apakah penjelasan mengenai perbedaan antara Nabi dan Rasul cukup mudah untuk dipahami? Tentu mudah bukan. Nah, bagi kalian yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Nabi dan Rasul, berikut akan diulas mengenai salah satu dari 25 Nabi yang wajib untuk diketahui bagi umat muslim. Pembahasan kali ini mengenai kisah salah satu Nabi, yaitu Nabi Saleh AS.

Nabi Saleh Alaihissalam (keselamatan atasnya) merupakan salah satu dari 25 Nabi utusan Allah SWT yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri. Nabi Saleh AS merupakan nabi ke-lima yang diutus untuk menyebarkan ajaran menyembah Allah SWT setelah kehancuran kaum ‘Ad yang hidup di zaman Nabi Hud AS.

Beberapa ulama meriwayatkan jika Nabi Saleh AS memiliki seorang ayahanda bernama Ubaid. Nabi Saleh AS diangkat oleh Allah SWT sebagai seorang Nabi pada tahun 2100 SM.

Apabila diruntutkan maka silsilah dari Nabi Saleh yaitu Saleh bin Ubaid bin Masih bin Ubaid bin Hadir bin Tsamud bin Atsir bin Aram/Iram bin Sem/Sam bin Nuh.

Jadi dapat disimpulkan jika Nabi Saleh AS masih memiliki darah keturunan dari Nabi Nuh AS. Nabi Saleh AS berasal dari bangsa Arab, tepatnya suku Tsamud. Diriwayatkan dari Abu Dzar, nabi-nabi lain yang berasal dari bangsa Arab selain Nabi Saleh AS adalah Nabi Syu’aib AS, Nabi Hud AS, dan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Saleh AS adalah nabi yang diutus setelah Nabi Hud AS dan sebelum Nabi Ibrahim AS. Semasa hidupnya, Nabi Saleh AS menetap di daerah Arab Utara tepatnya di Al-Hijr. Selama di Al-Hijr, Nabi Saleh AS merupakan salah satu orang yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh penduduk Al-Hijr, yaitu kaum Tsamud.


Kaum Tsamud sangat pandai dalam hal memahat batu terutama batu-batu pegunungan. Hal tersebut dikarenakan daerah Hadramaut yang merupakan tempat tinggal kaum Tsamud adalah pegunungan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Fajr ayat 9.

“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” (Q.S. Al-Fajr ayat 9).

Kaum Tsamud yang menjadi target dakwah dari Nabi Saleh AS adalah kaum yang menyambung hidup mereka melalui bercocok tanam, arsitektur, dan berternak. Kemampuan yang dimiliki kaum Tsamud di bidang arsitektur sangatlah mengagumkan.

Mereka memahat bukit berbatu yang banyak ditemukan di Al-Hijr menjadi bangunan indah nan megah. Sedangkan pada hamparan tanah yang datar mereka membangun istana-istana. Bukit-bukit batu yang dipahat oleh kaum Tsamud membentuk bangunan-bangunan rumah yang mereka tinggali dengan gaya khas peninggalan Yunani dan Romawi Kuno.

Pada saat itu diketahui kaum Tsamud menyembah berhala sesuai yang dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Awalnya kaum Tsamud sangat menghormati Nabi Saleh AS karena mereka menaruh harapan pada beliau untuk meneruskan tradisi kaum Tsamud, yaitu menyembah berhala.


Namun ketika Nabi Saleh AS mulai menyampaikan ajakan untuk menyembah Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya, maka kaum Tsamud menjadi kecewa dan murka. Mereka mulai memusuhi Nabi Saleh AS karena beliau meminta untuk meninggalkan sesembahan berhala yang sudah menjadi bagian dari tradisi mereka secara turun-temurun.

Selain memiliki kebiasaan menyembah berhala, tabiat lainnya yang dimiliki oleh kaum Tsamud adalah angkuh dan sombong. Mereka seringkali meremehkan dan memandang rendah kaum lainnya.

Bahkan dalam kesehariannya mereka selalu berbuat maksiat seperti, berzina dan mabuk-mabukkan. Gaya hidup kaum Tsamud tersebut telah menyimpang jauh dari ajaran Allah SWT.

Oleh karena alasan tersebutlah Allah SWT mengangkat Saleh menjadi nabi dan ditugaskan untuk berdakwah kepada kaum Tsamud. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 73.

“Dan kepada kaum Tsamud, (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.’” (Q.S. Al-A’raf ayat 73).

Ketika Nabi Saleh AS mulai menyeru kepada kaum Tsamud tentang ajaran tauhid untuk menyembah Allah SWT semata, maka kaum Tsamud terbelah menjadi dua kelompok yang saling bertentangan.

Kelompok pertama yaitu yang mengikuti Nabi Saleh AS dipimpin oleh Junda’ bin Amru bin Mahlab bin Lubaid bin Jawwas. Junda’ bin Amru adalah salah satu tokoh pemuka di kaum Tsamud.

Sedangkan kelompok yang menentang Nabi Saleh AS dipimpin oleh Dzu’ab bin Amru bin Lubaid Al-Habbab dan Rabbab bin Sha’r bin Julmas. Dzu’ab dan Rabbab bahkan menghalang-halangi ketika Nabi Saleh AS hendak mengajak sepupunya yaitu Junda’ bin Syihab untuk mengikuti ajarannya.

Kelompok penentang yang diketuai oleh Dzu’ab dan Rabbab berpendapat bahwa Nabi Saleh AS terkena sihir. Mereka tidak terima dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Saleh AS.

Selain itu Nabi Saleh AS juga dianggap sebagai penipu karena mereka tidak percaya apabila utusan Allah SWT adalah manusia biasa sama seperti mereka, sehingga mereka menuntut mukjizat sebagai bukti kerasulannya.


Apa saja keberanian Nabi Saleh a.s. , antara lain :

  • Berani berdakwah kepada kaum Śamud. ...
  • Berani mengingatkan kaumnya yang salah. ...
  • Nabi Saleh a.s berani berdebat / bertukar pendapat dengan kaumnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKNA DAN NAMA-NAMA AL-QUR'AN

Tujuan Menuntut Ilmu menurut Al-Qur'an dan Hadits

Tafsir Ayat 29 dari Surat Al-Baqarah