PERANG DUA PESISIR PULAU (KERAJAAN GRISSEE DAN KERAJAAN SAMPANG)

Di daerah pesisir utara Jawa Timur terdapat sebuah Negari yang dipimpin oleh Bupati yang sangat bijaksana, baik hati dan menyayangi rakyatnya, Bupati Joyonegoro namanya. Karena kebaikan hati sang Bupati, banyak pedagang dari berbagai tempat yang singgah di situ merasa betah dan nyaman tinggal di Negari tersebut.

Suatu hari raja dari Negari Grissee itu pergi berkunjung ke kerajaan Mataram karena suatu urusan.

“Aku titipkan rakyat kepada kalian, begitu juga keluarga, dan hartaku,” pesan sang Bupati kepada beberapa sentananya.

Dengan dikawal beberapa prajurit, sang Bupati pergi untuk beberapa waktu yang cukup lama. Karena hanya untuk perjalanan saja menghabiskan waktu berbulan-bulan, melewati hutan belukar dan hutan belantara yang luar biasa lebatnya. Tidak lupa mereka membawa bekal yang sebanyak-banyaknya.

Sesampainya di sana, terjadilah sesuatu di negerinya.

Pemberontak datang melalui pelabuhan dengan menumpang kapal-kapal dagang. Karena sang Bupati sedang tidak di dalem kadipaten, mengundang niat buruk negeri seberang. Dengan dipimpin Demang Jiwaraga, pasukan dari Negeri Sampang menjarah segala apa yang ada.

Para istri dan anak  Bupati Joyonegoro dibawa ke Negeri Sampang dan Demang Jiwaraga mengangkat dirinya sebagai raja baru di kerajaan Grissee. Para sentana disandera dan diperintah untuk patuh terhadap perintah sang raja baru. Baju kebangsaan ditanggalkan dan diganti dengan baju kebangsaan Negeri Sampang.

Penguasa baru itu terkenal sangat sakit mandraguna. Tidak ada satu pun rakyat bahkan sentana berani melawan. Mereka semua tunduk patuh dan menuruti segala perintah Demang Jiwaraga.

Mendengar negerinya diserang, Bupati Joyonegoro dan pasukannya kembali pulang untuk merebut kembali wilayahnya yang telah dikuasi musuh. Salah seorang Bupati dari Negeri Ponorogo yang ketika itu kebetulan berada disana merasa simpati kepada Bupati Joyonegoro dan rakyatnya, maka dia dan pasukannya berniat untuk ikut ke Grissee dan membantu Bupati Joyonegoro.

Perjalanan ditempuh dua Bupati dan ribuan pasukannya selama beberapa bulan. Karena perjalanan melewati hutan belantara yang tidak mudah dilewati dan dengan ribuan pasukan yang tentunya sangat merepotkan. Maka waktu yang dibutuhkan cukup lama. Namun karena faktor keamanan menjadi alasan utama Bupati, maka pasukan harus dibawa sebanyak-banyaknya.

Setelah memasuki wilayah Negari Grissee, Dusun Sekaran tepatnya. Karena keramahan dan kepedulian rakyatnya yang tinggal di Sekaran, Bupati Joyonegoro merasa nyaman tinggal di situ. Hingga Bupati dan pasukannya mendirikan benteng pertahanan di Dusun Ngabetan yang terletak di sebelah timur Dusun Sekaran.

Dilain pihak, Demang Jiwaraga yang menempati dalem kadipaten Bupati Joyonegoro memanggil para sendana dalam sebuah paseban (pertemuan). Dengan alasan tidak ada yang tahu jalan menuju tempat tersebut kecuali para sendana, Demang Jiwaraga memerintahkan.

“Antarkan tamu kita ini ke Jipang,” perintah Demang Jiwaraga.

Tak berapa lama kemudian mereka berangkat.

Namun begitu melewati batas Grisse, tamu tersebut berkata.

“Sebenarnya saya sendiri sudah tau jalan menuju Jipang, tapi Jiwaraga memerintahkan kalian untuk mengantarku,” ujar si tamu.

“Lantas apa maksud Jiwaraga menyuruh kami mengantarkanmu?” tanya salah seorang sendana kepada si tamu.

“Itu hanya akal-akalan Jiwaraga, dia tau kalian tidak sepenuhnya patuh kepadanya. Dia bermaksud membunuh kalian di tengah perjalanan nanti,” si tamu memprediksi.

“Saya sarankan agar kalian melarikan diri,” lanjut si tamu.

Para sendana baru sadar akan kelicikan Demang Jiwaraga. Maka mereka segera melarikan diri menuju arah selatan, sebab mereka telah mendengar bahwa Bupati junjungan mereka sedang menyusun kekuatan di Dusun Ngabetan. Setelah menumpuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya para sendana kembali bergabung dengan Bupati dan pasukannya.

Ketika bertemu dengan Bupati, para sendana menceritakan kejahatan dan kekejaman Demang Jiwaraga.

“Selain para anak dan istri Bupati, Jiwaraga juga membawa para anak-istri kami,” kisah salah seorang sendana.

“Namun beberapa sendana yang sempat disandera oleh Jiwaraga berhasil kabur. Kabarnya mereka sedang meminta bantuan ke negeri tetangga,” lanjut sendana tersebut.

“Kondisi Negeri Grissee saat ini kacau balau, para begal (perampok) berada dimana-mana,” kisah seorang sendana lainya.

Kemudian dia menceritakan ketika dia dan anaknya melakukan perjalanan antara Sumursongo dan Pabean, mereka dirampok oleh sekawanan begal. Beruntung anak dari sendana tersebut berhasil melawan.

Waktu terus berjalan, malam berganti siang dan siang berganti malam. Tak terasa sebulan sudah Bupati Grissee dan Bupati Ponorogo menetap di Benteng Ngabetan. Di dusun ini pula Bupati Joyonegoro dan pasukannya menghimpun kekuatan untuk segera merebut kembali Negeri Grissee dari cengkeraman Demang Jiwaraga dan pasukannya.

Belum sempat Bupati Joyonegoro menyerang Demang Jiwaraga, pasukan Demang Jiwaraga sudah terlebih dahulu menyerbu ke benteng pertahanan Bupati Joyonegoro di Dusun Ngabetan. Terjadilah peperangan yang hebat. Banyak korban berjatuhan. Banyak darah mengalir keluar dari tubuh para pasukan. Namun kedua pasukan terlihat sama kuat.

Peperangan pun sepakat diberhentikan. Pasukan Bupati Joyonegoro bertahan di Dusun Sekaran dan mendirikan Benteng di sana, sedangkan Demang Jiwaraga dan pasukannya bertahan di Dusun Bogomiring. Keduanya dipisah oleh Dusun Ngabetan yang tadinya merupakan Benteng pertahanan Bupati Joyonegoro dan pasukannya.

Pada saat berkumpul terjadi kehebohan di antara para prajurit Sampang, yang mendirikan kemah di sebuah tanah lapang di dusun Bogomiring.

“Saya heran, tiap kali Bupati Grissee itu menembak selalu tepat sasaran. Bahkan selalu tepat mengenai mata sasarannya,” ujar salah seorang prajurit.

“Benar sekali, bahkan ada yang lebih aneh lagi. Sebagian dari prajurit kita yang tumbang karena peluru sudah bersembunyi dengan menyelam ke dalam air. Namun ketika keluar dari air masih ada peluru yang menyambarnya,” timpal prajurit yang lainnya.

Mereka terus bercerita satu sama lain tentang pengalamannya ketika menghadapi Bupati Joyonegoro dan pasukannya. Menggunjing tentang kesaktian Bupati Joyonegoro. Peluru Bupati Joyonegoro yang berhenti di atas air untuk menunggu sasaran keluar dari persembunyiannya. Bahkan tepat juga mengenai mata korban. Benar-benar penembak jitu.

“Kalau seperti itu bahaya, bisa-bisa pasukan Sampang akan tumpas semua karena kesaktian Bupati Grissee itu,” ujar prajurit lainnya.

Malam itu mereka sepakat agar esok pagi melaporkan kesaktian Bupati Joyonegoro kepada Pangeran Cakraningrat, Bupati Sampang. Setelah mendapat laporan tersebut dan tahu bahwa banyak prajurit Sampang yang tewas, maka Pangeran Cakraningrat segera memerintahkan utusannya yang berpangkat Mantri untuk menghadap Bupati Joyonegoro. Membawakan surat dari Bupati Cakraningrat.

Selain itu mantri juga diperintah untuk menyampaikan pesan bahwa istri-istri Bupati Joyonegoro dan para istri beserta anak para punggawa Bupati Grissee yang sempat diboyong ke Sampang akan dikembalikan. Tidak cukup dengan itu, Bupati Sampang juga memberi kenang-kenangan berupa kera putih kepada Bupati Joyonegoro.

Sesampainya di Benteng Dusun Sekaran, mantri utusan tersebut bertemu dengan Bupati Joyonegoro dan menyampaikan pesan-pesan Bupati Sampang. Pesan terakhir yang disampaikan yaitu bahwa Bupati Joyonegoro beserta pengikutnya diminta untuk kembali ke Negeri Grissee dan kembali menempati dalem kadipaten yang sedang diduduki Demang Jiwaraga dan pasukannya.

“Bupati Cakraningrat juga berpesan bahwa apa yang telah terjadi umpamakan saja sebagai perlakuan dari anak yang belum dewasa,” tutur sang mantri utusan.

“Saya akan menjalankan apa yang dikehendaki oleh Bupati Cakraningrat. Akan tetapi bagaimana saya bisa kembali ke Grissee, sementara dalem kadipaten di tempati oleh Demang Jiwaraga. Di lain itu, Demang Jiwaraga juga menjalankan pemerintahan di Grissee. Hal inilah yang membuat saya tidak bisa menjalankan kehendak Bupati Sampang,” jawab Bupati Joyonegoro.

Mantri kembali berkata:

“Demang Jiwaraga bukan masalah serius. Ia bisa saja diusir....”

Bupati Joyonegoro kembali menjawab:

“Demang Jiwaraga bukan seekor hewan yang begitu saja dengan mudah bisa diusir. Ia pasti tidak akan tinggal diam, ia pasti bakal melawan.”

Mendengar jawaban Bupati Joyonegoro, utusan tersebut membalas dengan sinis dan sedikit tersulut amarah:

“Jadi Paduka tidak mau melaksanakan kehendak Bupati Cakraningrat? Ini sudah menunjukkan bahwa Paduka telah menolak perintah. Di samping itu Paduka juga mendirikan benteng pertahanan.”

“Tak pernah terbesit sama sekali bahwa saya bakal menolak kehendak dari Pangeran Cakraningrat, namun kami semua kesulitan untuk mengusir Demang Jiwaraga. Mengenai benteng pertahanan yang saya dirikan, itu hanya semata-mata untuk menahan serbuan dari pasukan Demang Jiwaraga yang ribuan jumlahnya,” jawab Bupati Joyonegoro dengan rendah hati.

Mendengar jawaban Bupati Joyonegoro seperti itu, maka segera mantri utusan tersebut bergegas untuk berpamitan pulang.

Setelah kepergian mantri utusan tersebut Bupati Joyonegoro segera mengumpulkan pengikutnya dan berpesan agar selalu waspada. Karena kapan saja Benteng Sekaran ini pasti akan diserbu lagi oleh prajurit dari Sampang yang tambah banyak jumlahnya. Para pengikut pun menyatakan akan selalu siap dan bersumpah setia seraya berdo’a agar keselamatan mereka selalu dilingdungi.

Siang malam para pengikut Bupati Joyonegoro terus bekerja untuk terus memperkuat bangunan Benteng pertahanan mereka.

Dan apa yang diperkirakan Bupati Joyonegoro pun benar-benar terjadi. Tak lama setelah kepergian mantri utusan, ribuan prajurit Sampang telah memenuhi tanah lapang di Dusun Bogomiring. Jumlahnya tak terhingga, bak lautan yang tak berujung luasnya. Belasan kali lipat dari pasukan sebelumnya yang datang menyerang ke Benteng Ngabetan.

Dengan sekali aba-aba dari Demang Jiwaraga, ribuan pasukan Sampang pun berbondong-bondong mendatangi benteng Sekaran.

“Serbuuuuuuuuuuu, kita hancurkan benteng pertahanan mereka,” teriak Demang Jiwaraga.

Peperangan dengan jumlah yang tak seimbang pun bakal terjadi.

Prajurit Grissee dengan dibantu oleh prajurit dari Ponorogo yang lebih sedikit jumlahnya bersiap siaga  di setiap sudut benteng. Sebisa mungkin mereka mempertahankan diri dan benteng mereka dari serbuan semut merah yang tersulut amarah. Semua prajurit selalu siap sedia untuk mempertahankan dan merebut kembali apa yang mereka anggap sebagai hak mereka.

Sementara itu, dengan bermodal banyaknya pasukan dan menjadi penguasa sementara di negari orang, dengan amarah dan semangat yang bercampur membara, pasukan Sampang terus berjalan mendekat ke arah benteng Sekaran yang berdiri kokoh. Semakin jauh mereka dari tanah Bogomiring semakin dekat pula kepada benteng Sekaran. Yang mereka lewati hanyalah areal persawahan yang luas, tak sebatang pohon pun tumbuh disana.

Namun kondisi yang seperti itu pula lah yang menimbulkan kekacauan pasukan Sampang. Satu persatu dari mereka tergeletak berjatuhan dengan mata yang ditembus pelor (peluru) dari para punggawa Kadipaten Grissee. Rupa-rupanya bukan hanya Bupati Joyonegoro saja yang jitu menembak, seluruh punggawanya pun sangat lihai mengendalikan senjata laras panjang.

Melihat korban semakin banyak pasukan Sampang pun menarik diri dari medan. Mereka kembali dengan membopong jasad kawan-kawannya yang telah gugur maupun luka. Mendengar berita kehancuran pasukannya, Bupati Sampang semakin naik pitam.

“Berangkatkan lebih banyak lagi pasukan untuk membantu Demang Jiwaraga. Hancurkan benteng pertahanan Negeri Grissee. Balas kematian saudara-saudara kalian,” seru Bupati Cakraningrat.

Maka berangkatlah pasukan yang semakin banyak jumlahnya.

Dengan hanya mengandalkan jumlah yang banyak, lagi-lagi pasukan Sampang banyak yang mati sia-sia. Posisi mereka sangat tidak diuntungkan oleh areal persawahan yang terbuka. Sehingga tanpa ada perlawanan berarti dari prajurit Grissee, mereka berguguran di tengah sawah. Semua dari mereka mengalami luka di bagian yang sama. Mata mereka berlubang. Ditembus oleh peluru. Mengerikan.

Kegagalan kembali didapatkan pasukan Sampang.

Demang Jiwaraga yang sedang di dalem Kadipaten Grissee juga sudah memuncak amarahnya. Ia bermaksud turun sendiri ke medan pertempuran. Namun ia tidak gegabah dalam bertindak, ia berfikir bagaimana cara memancing para punggawa Grissee dan Bupati Grissee agar keluar dari benteng pertahanannya.

Dan akhirnya ia pun menemukan strategi yang tepat untuk memancing Bupati Grissee beserta punggawanya agar keluar dari benteng pertahanan. Ia segera mengutus seorang utusannya untuk melapor kepada Bupati Cakraningrat tentang keadaan pasukannya dan menyampaikan strategi yang dirancanganya.

Utusan itu pun segera menghadap Bupati Cakraningrat dan melaporkan keadaan pasukannya.

Bupati Cakraningrat yang telah mendengar pasukannya bertambah banyak yang berguguran, jadi sangat murka. Bupati Sampang tersebut akan mengirim para Hario dan para Panji sebagai pasukan andalan negeri Sampang untuk menjadi bala bantuan yang terakhir kalinya. Dan dengan tegas memerintahkan pasukannya agar tetap menyerang, pantang kembali kecuali mereka yang telah terluka.

Setelah itu utusan tersebut menyampaikan pesan strategi dari Demang Jiwaraga.

“Demang Jiwaraga menginginkan agar para tawanan dari keluarga punggawa Grissee dibawa sebagai umpan untuk memancing mereka keluar dari benteng pertahanannya,” ujar utusan.

“Ide yang bagus, saya setuju dengan strategi Demang Jiwaraga. Setelah mereka keluar dan hanya dengan jumlah yang sedikit mereka akan kalah,” balas Bupati Cakraningrat.

Para Hario dan Panji berangkat dengan diikuti beberapa prajurit Sampang. Bersamaan dengan itu, Bupati Cakraningrat membalas pesan Demang Jiwaraga dengan mengirim para tawanan ke negeri Grissee. Sebagai umpan agar para punggawa Grissee keluar dari benteng, tak terkecuali Bupati Joyonegoro.

Setelah sampai di Grissee dan mengatur strategi, berangkatlah pasukan gabungan para Hario, Panji dan juga Demang Jiwaraga ke benteng pertahanan Bupati Grissee Joyonegoro. Di sepanjang jalan mereka berjumpa dengan prajurit-prajurit Sampang yang nampak putus asa. Dengan di pundak menggendong jasad kawannya yang telah gugur, atau membopong kawannya yang terluka dengan tandu. Dengan suara parau mereka menasehati kawan-kawannya yang sedang menuju medan pertempuran.

“Urungkan niat kalian untuk menghadapi Joyonegoro dan prajuritnya, mereka terlalu tangguh untu ditaklukkan.” Demikian seru mereka setiap berpapasan dengan prajurit Sampang.

Namun karena perintah Bupati Cakraningrat agar pantang mundur, maka para serdadu Sampang itu tetap saja melangkah menuju medan perang. Dalam hati mereka yakin akan berhasil menaklukkan benteng pertahanan Bupati Grissee dan punggawanya. Strategi yang mereka rancang diyakini sangat jitu.

Benar saja, setelah para tawanan yang merupakan keluarga dari para punggawa Bupati Grisseee dibawa ke medan peperangan, dua diantara punggawa bupati terpancing keluar. Bak banteng mengamuk, dua orang punggawa bupati tersebut menghunuskan kerisnya kepada setiap prajurit yang berada di dekatnya. Tak ayal banyak prajurit Sampang yang bergelimpangan karena tertusuk keris kedua bangsawan tersebut.

Namun tak lama berselang salah seorang dari dua punggawa Bupati Grissee yang bernama Kyai Ngabei Puspodirono terluka. Punggawa satunya yang bernama Kyai Ngabei Yudonegoro segera berlari membawa Kyai Ngabei Puspodirono masuk ke dalam benteng pertahanan.

Mengetahui salah seorang punggawanya terluka, Bupati Grissee mengamuk dan keluar seorang diri menghadapi ribuan pasukan Sampang. Prajurit Grissee yang tau junjungannya marah hanya bisa diam saja membiarkan langkah yang diambil sang bupati. Mereka tau dan sadar akan kehebatan dan kesaktian  junjungannya tersebut.

Dengan hanya seorang diri, Bupati Joyonegoro berhasil meluluh lantakkan ratusan prajurut Sampang. Pusaka keris Kyai Blabar yang dimilikinya berhasil menumpas banyak mangsa. Selain itu, karena sebilah keris itulah Bupati Joyonegoro tidak mempan terhadap seranganan apapun, kebal. Para Hario dan Panji yang jago bertarung pun tak dapat berbuat apa-apa. Banyak diantara mereka yang mari dengan bergelimang darah.

Sementara di sisi lain, Demang Jiwaraga sedang dikepung dua punggawa Bupati Grissee lainnya, Kyai Ngabei Mertorejo dan Kyai Ngabei Pusporogo. Pertarungan dua melawan satu yang sangat sengit. Karena kesaktiannya, Demang Jiwaraga mampu mengimbangi kemampuan dua punggawa Grissee tersebut. bahkan di saat lengah Demang Jiwaraga berhasil melumpuhkan Kyai Ngabei Pusporogo. Leher Kyai Ngabei Pusporogo terkena sabetan dari tombak Demang Jiwaraga hingga terluka.

Melihat kawannya terluka Kyai Ngabei Mertorejo menyerang dan melemparkan tombaknya ke arah Demang Jiwaraga. Sayang, tombak tersebut justru mengarah ke kuda tunggangan Demang Jiwaraga hingga menyebabkan kuda tersebut tersungkur dan Demang Jiwaraga terjatuh. Seketika itu Demang Jiwaraga mengambil langkah seribu.

Melihat pimpinannya melarikan diri, prajurit Sampang yang tersisa pun ikut melarikan diri. Peperangan sementara berhenti.

Demang Jiwaraga kembali ke dalem kadipaten dengan perasaan gelisah dan dalam keadaan kebingungan. Ia sudah tidak betah tinggal di istana yang memang sejatinya bukanlah haknya. Akan tetapi kalaupun ia pulang ke Sampang ia takut dengan Bupati Cakraningrat karena telah menyalakan api kerusuhan ini. Ia sadar bahwa ulahnya telah menyebabkan tewasnya ribuan prajurit Sampang.sementara pasukan yang tersisa telah menyatakan diri mundur dari peperangan karena merasa tidak pernah bermusuhan dengan Bupati Joyonegoro dan para pengikutnya.

Keadaan yang demikian telah diketahui oleh Bupati Cakraningrat. Ia sadar bahwa pertempuran ini sebenarnya tak pantas terjadi. Tapi sudah kepalang tanggung. Pasukan Sampang telah banyak yang tewas. Ia merasa tidak terima dan juga tidak menyerah begitu saja. Ia bermaksud kembali mengirim bala bantuan lagi kepada Demang Jiwaraga dan beberapa pasukannya yang masih setia.

Kali ini pasukan bantuan yang dikirim bukanlah pasukan perang seperti biasa. Akan tetapi ia memerintahkan agar para begal dan bajak laut yang terkenal pemberani dan sadis pergi ke Grissee dan bergabung dengan Demang Jiwaraga. Jumlah mereka pun mencapai ribuan. Dengan perahu mereka berangkat dan mendarat di pesisir Kadipaten Grissee kemudian bergabung dengan Demang Jiwaraga di dalem kadipaten. Demang Jiwaraga yang mengetahui hal tersebut merasa senang dan berterima kasih kepada Bupati Cakraningrat.

Sementara itu, Bupati Joyonegoro tetap tinggal di benteng Sekaran dan melakukan perundingan. Meskipun Demang Jiwaraga sudah lari entah kemana tapi Bupati Grissee itu yakin bahwa Demang Jiwaraga masih menduduki dalem Kadipaten Grissee. Maka dalam perundingan itu Bupati Joyonegoro dan pengikutnya berencana untuk meninggalkan benteng Sekaran secara diam-diam.

Bupati Joyonegoro berikut pengikutnya menuju Desa Sememi yang memasuki wilayah Kadipaten Soerabaia. Di sana ia sering dipanggil oleh Komandan Kompeni yang ada di sana. Komandan tersebut berjanji akan membantu Bupati Joyonegoro untuk merebut kembali tahtanya dari tangan Demang Jiwaraga. Komandan tersebut bermaksud akan  mengerahkan serdadu kompeni dan dibantu beberapa pasukan dari Bupati Soerabaia.

Komandan Kompeni lantas berdiskusi dengan Bupati Soerabaia tentang perihal bantuan kepada Bupati Joyonegoro. Bupati Soerabaia kemudian mengutus 2000 pasukannya untuk bergabung dengan kompeni dan membantu Bupati Joyonegoro. Selang beberapa waktu ketiga gabungan pasukan tersebut telah berkumpul menjadi satu dan siap untuk menyerbu Demang Jiwaraga dan prajuritnya yang tersisa.

Sebuah meriam disulut, suaranya menggelegar memekakkan telinga. Tanda pasukan gabungan segera diberangkatkan menuju medan pertempuran. Dengan dipimpin pasukan kompeni, pasukan Bupati Soerabaia dan Bupati Grissee menyusul di belakang. Dengan banyaknya pasukan, maka tak mungkin dapat menyembunyikan diri dari mata-mata Demang Jiwaraga. Sehingga belum sampai tengah perjalanan pasukan Sampang yang terdiri atas para begal dan bajak laut tersebut telah menghadang di tengah jalan.

Pertempuran sudah tak terelakkan lagi. Perkelahian satu lawan satu antara dua pasukan gabungan tersebut terjadi. Denting suara pedang yang beradu dengan tameng. Sesekali terdengar suara karaben dari pasukan kompeni atau pun dari golongan bajak laut. Sengit. Tak ada dari pihak salah satu yang ingin mengundurkan diri dan mengakhiri pertempuran. Kedua-duanya sama kuat. Hingga petang pun segera datang dan komandan kompeni merasa bahwa sudah saatnya peperangan ini diakhiri. Ia akan menembak setiap prajurit Sampang. Satu persatu nanti juga akan cepat mengurangi kekuatan mereka.

Benar saja, tak lama setelah itu terdengar suara tembakan dari komandan kompeni. Satu persatu prajurit Sampang pun tewas dengan memekik suara. Namun pasukan Sampang dari bajak laut tak tinggal diam. Mereka juga memiliki senjata karaben yang bisa digunakan. Dengan tanpa pandang bulu para bajak laut tersebut menembakkan karabennya. Tak sedikit juga korban yang didapatkannya, banyak prajurit Soerabaia yang tewas karenanya. Bahkan juga prajurit Grissee tak luput dari bidikannya, diantaranya ada seorang prayagati abdi kesayangan Bupati Joyonegoro dan Lurah Gamel. Mendengar kedua orang terebut terluka, Bupati Joyonegoro sangat marah.

Karena hari sudah gelap peperangan berhenti dengan sendirinya. Pasukan Sampang mundur dan mencari tempat peristirahatan yang tidak jauh dari medan peperangan. Sedangkan pasukan gabungan kompeni, Soerabaia dan Grissee memanfaatkan suasana dengan menyerbu tempat peristirahatan pasukan Sampang. Karena tidak menduga akan datangnya serangan, yang terjadi adalah pasukan Sampang kocar kacir tidak karuan. Mereka melarikan diri ke arah kota.

Sampai disitu pasukan gabungan kompeni, Soerabaia dan Grissee tidak meneruskan pengejaran dan memilih bertahan di sebuah dusun. Melepas letih dan lelah setelah seharian bertempur dengan mengorbankan jiwa dan raga.

Sementara di dalem Kadipaten Grissee, Demang Jiwaraga putus asa dan tak ada lagi semangat ketika mengetahui pasukannya kembali tercerai berai. Ia segera mengirim utusan untuk melapor keadaan yang ada kepada Pangeran Cakraningrat. Bupati Sampang tersebut kembali merespon dengan mengirim lagi pasukan bantuan yang juga berjumlah ribuan. Sampai-sampai Negeri Sampang terlihat sepi karena para lelaki pergi untuk berperang.

Pasukan tambahan dari Sampang sudah berkumpul di Grissee. Demang Jiwaraga kembali memimpin pasukan untuk bergerak melawan musuhnya. Kali ini ia ingin membalas serangan yang pernah dilancarkan kepada pasukannya. Ia bermaksud menerapkan taktik menyerang dengan tiba-tiba dan diam-diam pada saat pasukan gabungan kompeni, Soerabaia dan Grissee beristirahat. Pada malam hari mereka menelusup masuk ke dalam dusun tempat pasukan kompeni, Soerabaia dan Grissee yang sedang beristirahat. Tak ayal, pasukan gabungan kompeni, Soerabaia dan Grissee tidak siap menerima serangan itu. Mereka porak poranda dan banyak yang menjadi korban. Mereka tercerai berai berlarian ke segala arah. Mereka pun bertahan di dusun yang bernama Kembangan tersebut.

Keesokannya, pasukan gabungan kompeni, Soerabaia dan Grissee kembali berkumpul di sebuah dusun lain. Bantuan dari kompeni di Soerabaia didatangkan. Setelah dirasa cukup kuat mereka serentak bergerak menuju Dusun Kembangan untuk bersua dengan pasukan Sampang. Kali ini pasukan kompeni melengkapi persenjataan mereka dengan meriam sundut. Dengan beberapa kali tembakan saja pasukan Sampang dibuat hancur. Tapi para jagoan mereka tidak tinggal diam. Tiga pemuka prajurit yang bernama Singomuko, Singobarong dan Macam Kombang berhasil menelusup ke barisan prajurit kompeni. Belasan pasukan kompeni yang mengendalikan meriam berhasil mereka robohkan.

Di sudut lain, Demang Jiwaraga dengan kesaktiannya berhasil membuat seorang perwira kompeni tumbang. Meskipun peluru perwira tersebut sempat menghujam dada sang Demang, tapi ia sanggup bangkit dan balik menyerang hingga sang perwira tewas. Melihat salah seorang perwiranya tewas, pasukan kompeni dihinggapi kepanikan. Suasana ini berhasil dimanfaatkan pasukan Sampang untuk terus menekan kompeni.

Melihat sekutunya terpojok. Bupati Joyonegoro memerintahkan pasukannya membantu kompeni. Ia sendiri sedang bertarung dengan dua pengawal Demang Jiwaraga yang bernama Bimomuku dan Macan Gringsing. Kedua pengawal setia Jiwaraga tersebut tewas terkena tembakan Joyonegoro. Mata keduanya berlubang.

Melihat kematian kedua pengawalnya itu, Demang Jiwaraga mengamuk tak karuan. Ia melabrak siapa saja yang ada di dekatnya dengan melangkah ke arah Joyonegoro. Ia bermaksud menantang Joyonegoro berduel. Namun Bupati Joyonegoro mengambil langkah aman dengan bersembunyi di balik kerumunan pasukan kompeni. Sesekali ia mengarahkan kerabennya ke arah pasukan Sampang. Hingga akhirnya kesempatan untuk menembak Demang Jiwaraga datang. Peluru kesaben sang Bupati tepat mengenai mata Demang Jiwaraga. Namun sakti, Demang Jiwaraga tetap bisa bangkit dan sembuh seperti sedia kala, kembali mengamuk dan berteriak-teriak marah.

Kyai Ngabei Wirodirjo seorang punggawa yang Grissee yang ada di dekatnya ia kejar. Bertarungan terjadi antara dua pertarung hebat. Setelah berkali-kali Kyai Ngabei Wirodirjo berhasil melukai Demang Jiwaraga namun tak juga berhasil dikalahkan. Maka Bupati Joyonegoro menyadari kesaktian Demang Jiwaraga dan menganggap Kyai Ngabei Wirodirjo bukanlah tandingannya. Sehingga ia sendiri turun tangan untuk meladeni Demang Jiwaraga.

Melihat ada kesempatan dan dengan keris Kyai Blabar yang dimilikinya, Bupati Joyonegoro berlari ke arah Demang Jiwaraga dan menghunuskan keris tersebut ke arah tubuh sang Demang. Seketika itu Demang Jiwaraga berteriak sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian ia tak mampu lagi berdiri, roboh dan tak berkutik lagi.

Melihat Demang Jiwaraga tewas, pasukan gabungan Kompeni, Soerabaia dan Grissee bersorak gembira. Sementara di pihak lain, pasukan Sampang yang mengetahui pimpinannya telah tewas berlarian tunggang langgang ke arah Grissee. Dan kemudian mereka pun berlari ke pelabuhan sebelum akhirnya kembali ke Negeri Sampang dengan perahu-perahu yang ada di situ.

Kini Kadipaten Grissee telah kembali kepada pemiliknya yang sah. Bupati Joyonegoro dan para punggawanya bisa bernafas lega karena dapat merebut kembali singgasana mereka yang sempat berpindah tangan. Tak lupa mereka berterima kasih kepada Kompeni dan Pasukan Bupati Soerabaia yang telah membantunya dalam mengusir Demang Jiwaraga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKNA DAN NAMA-NAMA AL-QUR'AN

Tujuan Menuntut Ilmu menurut Al-Qur'an dan Hadits

Tafsir Ayat 29 dari Surat Al-Baqarah