Benarkah Tuhan itu Ada?
Benarkah Tuhan itu Ada?
Suatu hari ada seseorang memotong rambutnya di sebuah salon. Ketika rambutnya selesai dipotong orang tersebut baru ingat kalau dia hanya membawa uang 13.000 rupiah, sedangkan ongkos potong rambut 15.000 rupiah sehingga kurang untuk membayar ongkosnya.
“Maaf bang, aku cuma ada uang 13.000 di dompet, aku mau ambil uang dulu di ATM,” kata orang tersebut pada tukang potong rambut.
“Sudah sini, 13.000 saja tidak apa-apa,” balas tukang potong rambut.
“Jangan bang, tunggu saja sebentar, aku ambil dulu uang di ATM,” kata orang tersebut.
“Sudahlah, gak apa-apa,” sahut tukang potong rambut.
“Beneran bang? Ya sudah ini, semoga Tuhan membalas kebaikan abang,” jawab orang tersebut.
“Iya sama-sama, terima kasih, tapi Tuhan itu tidak ada,” balas si tukang potong rambut.
“Jika Tuhan itu ada kenapa dia biarkan orang-orang terlantar di luaran sana? Kenapa banyak orang kelaparan di luar sana? Tuhan itu tidak ada, kalau ada pasti tidak ada lagi penderitaan di dunia ini,” lanjut tukang potong rambut.
Dengan sangat kaget bapak tersebut melongo menatap wajah tukang potong rambut. Dan dengan sedikit senyuman bapak tersebut mohon pamit seraya berkata “Baik, terima kasih dan sampai ketemu lagi”.
Bapak tersebut keluar salon dengan hati dan perasaan yang berkecamuk tidak karuan, dia terus berjalan dengan menyeberangi jalan untuk menuju mesin ATM, dengan sambil berfikir bagaimana membantah peryataan tukang potong rambut tersebut.
Setelah keluar dari mesin ATM bapak tersebut merasa haus dan ingin membeli minuman. Saat membeli minuman di sebuah toko, ada seorang pengamen yang terlihat kusut dan badan yang tak terawat, ditambah lagi rambutnya yang panjang berurai tak terawat. Setelah agak lama memandangi pengamen tersebut, senyum mengembang dari bibir sang bapak.
“Maaf mas, bisa mas ikut saya sebentar,” pintah sang bapak kepada si pengamen.
Si pengamen menurut saja karena tangannya sudah digenggam oleh sang bapak. Dengan berjalan beriringan, sang bapak mengajak si pengamen masuk ke dalam salon.
Mereka kembali disambut tukang potong yang memotong rambut bapak tadi.
“Kenapa kembali lagi pak?” Tanya tukang potong rambut.
“Tukang potong rambut itu tidak ada.” Sahut bapak.
“Bagaimana bapak mengatakan itu, tukang potong rambut itu ada, saya tukang potong rambut.” Jawab tukang potong.
“Tukang potong rambut itu tidak ada, kalau dia ada tidak akan ada orang berambut panjang seperti dia,” balas sang bapak dengan menunjuk kepada pengamen tadi.
“Tukang potong rambut itu ada, aku orangnya, dia saja yang tidak mau datang kepadaku.” Balas tukang potong rambut sambil menunjuk pengamen berambut panjang.
Karena merasa menemukan umpan balik, sang bapak tersenyum ramah dan berkata.
“Begitu pula Tuhan, Dia itu ada, hanya saja mereka yang dalam kesulitan tidak mau datang kepadanya meminta jalan keluar. Sehingga banyak yang hidupnya berantakan dan terlantar tak punya sandaran. Karena Tuhanlah yang mengatur semua kehidupan ini. Datanglah padanya, maka kesulitan dan kesempitan akan diberikan jalan keluar.” Pungkas bapak tersebut.

“Maaf bang, aku cuma ada uang 13.000 di dompet, aku mau ambil uang dulu di ATM,” kata orang tersebut pada tukang potong rambut.
“Sudah sini, 13.000 saja tidak apa-apa,” balas tukang potong rambut.
“Jangan bang, tunggu saja sebentar, aku ambil dulu uang di ATM,” kata orang tersebut.
“Sudahlah, gak apa-apa,” sahut tukang potong rambut.
“Beneran bang? Ya sudah ini, semoga Tuhan membalas kebaikan abang,” jawab orang tersebut.
“Iya sama-sama, terima kasih, tapi Tuhan itu tidak ada,” balas si tukang potong rambut.
“Jika Tuhan itu ada kenapa dia biarkan orang-orang terlantar di luaran sana? Kenapa banyak orang kelaparan di luar sana? Tuhan itu tidak ada, kalau ada pasti tidak ada lagi penderitaan di dunia ini,” lanjut tukang potong rambut.
Dengan sangat kaget bapak tersebut melongo menatap wajah tukang potong rambut. Dan dengan sedikit senyuman bapak tersebut mohon pamit seraya berkata “Baik, terima kasih dan sampai ketemu lagi”.
Bapak tersebut keluar salon dengan hati dan perasaan yang berkecamuk tidak karuan, dia terus berjalan dengan menyeberangi jalan untuk menuju mesin ATM, dengan sambil berfikir bagaimana membantah peryataan tukang potong rambut tersebut.
Setelah keluar dari mesin ATM bapak tersebut merasa haus dan ingin membeli minuman. Saat membeli minuman di sebuah toko, ada seorang pengamen yang terlihat kusut dan badan yang tak terawat, ditambah lagi rambutnya yang panjang berurai tak terawat. Setelah agak lama memandangi pengamen tersebut, senyum mengembang dari bibir sang bapak.
“Maaf mas, bisa mas ikut saya sebentar,” pintah sang bapak kepada si pengamen.
Si pengamen menurut saja karena tangannya sudah digenggam oleh sang bapak. Dengan berjalan beriringan, sang bapak mengajak si pengamen masuk ke dalam salon.
Mereka kembali disambut tukang potong yang memotong rambut bapak tadi.
“Kenapa kembali lagi pak?” Tanya tukang potong rambut.
“Tukang potong rambut itu tidak ada.” Sahut bapak.
“Bagaimana bapak mengatakan itu, tukang potong rambut itu ada, saya tukang potong rambut.” Jawab tukang potong.
“Tukang potong rambut itu tidak ada, kalau dia ada tidak akan ada orang berambut panjang seperti dia,” balas sang bapak dengan menunjuk kepada pengamen tadi.
“Tukang potong rambut itu ada, aku orangnya, dia saja yang tidak mau datang kepadaku.” Balas tukang potong rambut sambil menunjuk pengamen berambut panjang.
Karena merasa menemukan umpan balik, sang bapak tersenyum ramah dan berkata.
“Begitu pula Tuhan, Dia itu ada, hanya saja mereka yang dalam kesulitan tidak mau datang kepadanya meminta jalan keluar. Sehingga banyak yang hidupnya berantakan dan terlantar tak punya sandaran. Karena Tuhanlah yang mengatur semua kehidupan ini. Datanglah padanya, maka kesulitan dan kesempitan akan diberikan jalan keluar.” Pungkas bapak tersebut.
Komentar
Posting Komentar